Mujina
貉

Ringkasan
Mujina adalah istilah Jepang lama untuk teledu atau tanuki; dalam cerita rakyat mujina digambarkan sebagai yōkai pengubah wujud yang menipu manusia.
Mujina is an old Japanese term for the badger or tanuki; in folklore the mujina is depicted as a shapeshifting yōkai that deceives humans.
Kisah dan tradisi
Mujina adalah istilah Jepang lama yang terutama merujuk pada teledu Jepang tetapi secara tradisional pada tanuki, sehingga menimbulkan kebingungan. Dalam wujud aslinya mujina dikatakan berwajah seperti rakun dengan tubuh teledu. Sebuah ensiklopedia Jepang mencatat bahwa dahulu tanuki disebut muji atau mujina, namun hal itu tidak selalu pasti dan ada daerah yang menyebut keduanya mujina. Dalam cerita rakyat, mujina seperti kitsune dan tanuki digambarkan sebagai yōkai yang menipu manusia. Mujina dapat berubah menjadi komet, tiang pagar, batu, pohon, dan sebagainya, dan salah satu wujud kesukaannya adalah pendeta Buddha berjubah hitam. Ia juga dikatakan menggembungkan perutnya dan menabuhnya sambil bernyanyi, serta menciptakan "api hantu" yang menyerupai will-o'-the-wisp. Wujud ubahannya tidak selalu stabil: bila tertidur, penampilannya dapat terurai. Mujina pertama kali tampak dalam sastra di Nihon Shoki, pada bagian tentang tahun ke-35 Permaisuri Suiko (627). Di wilayah Shimōsa mereka disebut kabukiri-kozō, dan di Sado disebut Tonchibō dan juga dianggap seperti wujud dewa gunung. Mujina dikenal sebagai penipu yang gemar bercanda tanpa niat jahat, namun dipercaya berhati lembut dan tahu berterima kasih. Kebingungan istilah ini pernah berdampak hukum: pada 1924 di Prefektur Tochigi seorang pemburu membunuh anjing rakun yang ia kira bernama mujina.
Mujina is an old Japanese term primarily for the Japanese badger but traditionally for the tanuki, which causes confusion. In its natural form the mujina is said to have a raccoon-like face and a badger's body. A Japanese encyclopedia notes that the tanuki was anciently called muji or mujina, but this is not certain and some regions call both animals mujina. In folklore the mujina, like the tanuki, is depicted as a yōkai that deceives humans. It can turn into comets, fence posts, stones, trees and more, and one of its favorite forms is a black-garbed Buddhist priest. It is also said to inflate its belly and drum on it while singing, and to create a "ghost-fire" resembling will-o'-the-wisps. Its transformation is not always stable: if it falls asleep its appearance can come undone. The earliest literary appearance is in the Nihon Shoki, in the section on the 35th year of Empress Suiko (627). In the Shimōsa region they are called kabukiri-kozō, and on Sado they are called Tonchibō and also thought of as resembling a mountain deity. The mujina is known as a trickster fond of harmless pranks, yet is believed to have a gentle heart and to know gratitude. The confusion over the term once had legal consequences: in 1924 in Tochigi Prefecture a hunter killed a raccoon dog he believed to be called a mujina.
Fakta utama
- Budaya / Culture
- Folklor & Mitologi Jepang
- Kawasan / Region
- Asia Timur
- Klasifikasi / Classification
- Yokai
- Kemampuan / Abilities
- Berubah wujud, Api hantu
Nama lain / Alternate names
カブキリ小僧 (kabukiri-kozō), Tonchibō (トンチボウ), Banbuku (バンブク)