Begu Ganjang

Ringkasan
Begu ganjang, atau hantu panjang, adalah roh jahat dalam kepercayaan Batak yang digambarkan besar, kurus, dan gelap seperti bayangan, tampak makin tinggi bila dipandang lebih lama, dan dipercaya dapat dipelihara untuk mencelakai orang.
Begu ganjang, the long ghost, is an evil spirit of Batak belief described as large, thin and shadow-dark, appearing to grow taller the longer it is looked at, and believed to be keepable to harm others.
Kisah dan tradisi
Dalam kepercayaan masyarakat Batak, begu ganjang termasuk jenis roh jahat yang digambarkan ganas. Tugasnya mencelakai orang, dan korbannya konon ditinggali lebam kebiruan di tenggorokan. Di kalangan Batak Karo ia dinamai begu jinujung, dan pemiliknya harus memberinya sajian berupa darah ayam merah. Secara harfiah begu berarti roh atau hantu dan ganjang berarti panjang atau tinggi. Dalam berbagai cerita rakyat Batak ia dipaparkan besar, kurus, dan memanjang, gelap seperti bayangan, dan tampak makin tinggi serta besar bila dipandang lebih lama. Dalam kajian di Sumatra Utara, sebagian informan menyebut ia tampak seperti bayangan yang makin tinggi bila dilihat ke atas, sementara deskripsi populer lain menyebut bentuknya besar dan hitam, atau bahwa ia dipelihara untuk tujuan tertentu seperti menjaga ladang, atau bahwa ia tidak punya bentuk khusus. Menurut budaya Batak, begu ganjang termasuk makhluk gaib yang dipercaya bermula dari manusia ataupun tempat tertentu. Menurut pemahaman Batak Toba, roh orang yang meninggal berubah menjadi begu, dan begu ganjang adalah salah satu jenisnya. Dalam sejumlah tradisi lisan ia dipercaya sebagai roh penjaga lahan pertanian; dalam perkembangan berikutnya ia lebih sering dikaitkan dengan ilmu hitam yang destruktif dan dengan dukun yang dipercaya dapat memanggil atau memeliharanya. Sebuah turi-turian Batak Toba menyebut begu ganjang sebagai satu dari nama yang diberikan Datu Tala kepada cucu-cucunya. Kepercayaan ini dipakai untuk menjelaskan kejadian yang sulit dipahami, seperti penyakit misterius, kondisi fisik yang memburuk tanpa sebab jelas, dan kematian mendadak. Isu begu ganjang cenderung beredar ketika ada kematian mendadak tanpa penyebab yang tampak. Masyarakat mencurigai orang tertentu sebagai sigumoang, yang dianggap memiliki dan mengendalikannya, dan orang yang dicurigai memeliharanya pernah menjadi sasaran kekerasan; sebuah kajian menyatakan narasinya awalnya dihormati sebagai warisan budaya tetapi sering disalahgunakan untuk membenarkan tindakan kriminal.
In Batak belief, the begu ganjang is counted among the evil spirits and is described as fierce. Its task is to harm people, and its victims are said to be left with a bluish bruise in the throat. Among the Karo Batak it is called begu jinujung, and its owner must give it offerings of red chicken blood. Literally, begu means spirit or ghost and ganjang means long or tall. In various Batak folk tales it is depicted as large, thin and elongated, dark like a shadow, and appearing to grow taller and bigger the longer it is looked at. In a study in North Sumatra, some informants described it as a shadow that grows taller when looked up at, while other popular descriptions say its form is large and black, or that it is kept for certain purposes such as guarding fields, or that it has no particular form. In Batak culture, begu ganjang is a supernatural being believed to originate from humans or certain places. In Batak Toba understanding, the spirits of the dead become begu, and begu ganjang is one kind. In some oral traditions it is believed to be a guardian spirit of farmland; in later developments it is more often linked with destructive black magic and with shamans believed able to summon or keep it. A Batak Toba turi-turian lists begu ganjang among the names Datu Tala gave to his grandchildren. The belief is used to explain events that are hard to understand, such as mysterious illness, unexplained physical decline and sudden death. Rumors of begu ganjang tend to spread when a sudden death has no visible cause. People suspect certain persons of being sigumoang, regarded as owning and controlling it, and people suspected of keeping it have been targets of violence; one study states that the narrative was first respected as cultural heritage but is often misused to justify criminal acts.
Konteks budaya
Menurut sebuah kajian, narasi tentang begu yang diteliti berfungsi sebagai narasi persuasif untuk mencegah perilaku buruk dan merugikan, dan isu begu ganjang cenderung beredar ketika terjadi kematian mendadak tanpa sebab yang tampak. Suku Batak Toba juga meyakini bahwa arwah orang yang telah wafat tetap bisa mengawasi, melindungi, dan merawat anak cucunya.
According to one study, the begu narratives it examines serve as persuasive narratives to prevent bad and harmful behavior, and rumors of begu ganjang tend to spread when a sudden death has no visible cause. The Batak Toba people also believe the spirits of the dead can still watch over, protect and look after their descendants.
Fakta utama
- Budaya / Culture
- Folklor Indonesia
- Kawasan / Region
- Asia Tenggara
- Negara / Country
- Indonesia
- Klasifikasi / Classification
- Spirit
- Habitat
- Fields
- Kemampuan / Abilities
- Tampak makin tinggi, Mencelakakan orang, Menjaga ladang
Nama lain / Alternate names
Begu Jinujung
Tahukah kamu? / Did you know?
Dalam sebuah turi-turian Batak Toba, begu ganjang adalah salah satu dari enam nama yang diberikan Datu Tala kepada cucu-cucunya, sedangkan cucu ketujuh disebut jolma (manusia).
In a Batak Toba turi-turian, begu ganjang is one of six names Datu Tala gave to his grandchildren, while the seventh grandchild was called jolma (human).