Dewi Sri

Ringkasan
Dewi Sri adalah dewi padi dan kesuburan dalam tradisi Jawa, Sunda, dan Bali, yang masih dipuja di Jawa, Bali, dan Lombok dan sering disamakan dengan Lakshmi.
Dewi Sri is the goddess of rice and fertility in Javanese, Sundanese and Balinese tradition, still worshipped on Java, Bali and Lombok and often equated with Lakshmi.
Kisah dan tradisi
Dewi Sri adalah dewi padi dan kesuburan dalam tradisi Hindu Jawa, Sunda, dan Bali, dan masih banyak dipuja di Jawa, Bali, serta Lombok. Ia sering dikaitkan atau disamakan dengan Lakshmi, pasangan Wisnu, dan namanya berasal dari kata Sanskerta yang berarti kekayaan, kemakmuran, kesehatan, keindahan, dan keberuntungan. Di Jawa Barat ia dikenal sebagai Nyai Pohaci Sanghyang Asri, dan di Bali antara lain sebagai Sri Sadhana atau Dewa Ayu Manik Galih. Asal-usulnya diperdebatkan. Denys Lombard berpendapat tokoh ini berasal dari India, sedangkan peneliti Titi Surti Nastiti menilai pemujaan dewi padi sudah ada sejak prasejarah, sebelum pengaruh Hindu-Buddha. Arca batu dan perunggu Dewi Sri ditemukan dari Jawa kuno, dengan ciri khas tangan kiri yang memegang setangkai padi, dan naskah Jawa tertua yang menyebut legendanya adalah Tantu Pagelaran dari sekitar abad ke-15. Dalam Wawacan Sulanjana, tiga tetes air mata naga Antaboga berubah menjadi telur berkilau. Satu telur menetas menjadi bayi perempuan cantik yang dibesarkan Batara Guru dan istrinya. Demi kedamaian kahyangan, para dewa meracun Nyi Pohaci dan menguburnya di tempat tersembunyi di bumi; dari pusarnya tumbuh padi, dan dalam beberapa versi padi putih dan merah tumbuh dari kedua matanya. Sebuah legenda Jawa yang dicatat Raffles menyebut Déwi Sri sebagai istri Wísnu. Ketika dikejar Kála Gamárang, ia mengutuk pengejarnya menjadi babi hutan, lalu masuk ke tubuh istri Dérma Nastíti di Méndang Kamúlan, sementara Wísnu masuk ke tubuh raja dan menjadi raja pertama Jawa. Dalam berbagai versi lain, Dewi Sri selalu berakhir terpisah dari Sedana karena kematian, pengembaraan, atau penolakan menikah. Di Kerajaan Sunda kuno ia dianggap dewi tertinggi bagi masyarakat agraris. Banyak rumah Jawa tradisional memiliki Pasrean, tempat pemujaan kecil untuknya. Ia juga dikaitkan dengan ular sawah, yang dalam mitologi Jawa dipercaya sebagai perwujudan atau pendampingnya; sebuah tutup tempayan di LACMA menampilkannya bersama ular itu, dengan tangan kiri memegang tangkai padi.
Dewi Sri is the goddess of rice and fertility in Javanese, Sundanese and Balinese Hindu tradition, and is still widely worshipped on Java, Bali and Lombok. She is often associated or equated with Lakshmi, Vishnu's consort, and her name comes from a Sanskrit word meaning wealth, prosperity, health, beauty and good fortune. In West Java she is known as Nyai Pohaci Sanghyang Asri, and in Bali as Sri Sadhana or Dewa Ayu Manik Galih, among other names. Her origin is debated. Denys Lombard argues that the figure came from India, while the researcher Titi Surti Nastiti holds that the rice goddess was worshipped from prehistory, before Hindu-Buddhist influence. Stone and bronze statues of Dewi Sri are known from ancient Java, marked by a left hand holding a sprig of rice, and the oldest Javanese manuscript to mention her legend is the Tantu Pagelaran of around the 15th century. In the Wawacan Sulanjana, three teardrops of the naga Antaboga turn into shining eggs. One hatches into a beautiful baby girl raised by Batara Guru and his wife. To keep peace in heaven, the gods poison Nyi Pohaci and bury her in a hidden place on earth; from her navel grows rice, and in some versions white and red rice grow from her eyes. A Javanese legend recorded by Raffles calls Déwi Sri the wife of Wísnu. Pursued by Kála Gamárang, she curses him into a hog, then enters the body of Dérma Nastíti's wife at Méndang Kamúlan, while Wísnu enters the king's body and becomes the first king of Java. In many other versions Dewi Sri always ends up separated from Sedana, through death, wandering or a refusal to marry. In the ancient Sunda Kingdom she was the highest goddess for agricultural society. Many traditional Javanese homes keep a Pasrean, a small shrine for her. She is also linked to the rice field snake, believed in Javanese mythology to be her embodiment or companion; a jar lid at LACMA shows her with that snake, her left hand holding a stalk of rice.
Konteks budaya
Di Kerajaan Sunda kuno ia dewi tertinggi dan dewa terpenting bagi masyarakat agraris, dan rumah-rumah Jawa tradisional menyediakan Pasrean untuk memujanya.
In the ancient Sunda Kingdom she was the highest goddess and the most important deity for agricultural society, and traditional Javanese homes keep a Pasrean to venerate her.
Fakta utama
- Budaya / Culture
- Folklor Indonesia
- Kawasan / Region
- Asia Tenggara
- Negara / Country
- Indonesia
- Era
- Recorded in the Tantu Pagelaran manuscript, around the 15th century; statues of Dewi Sri are known from ancient Java.
- Klasifikasi / Classification
- Deity
- Habitat
- Fields
Nama lain / Alternate names
Nyai Pohaci Sanghyang Asri, Sri Sadhana, Dewa Ayu Manik Galih
Tahukah kamu? / Did you know?
Dalam beberapa versi kisahnya, padi putih tumbuh dari mata kanan Dewi Sri dan padi merah dari mata kirinya.
In some versions of her story, white rice grew from Dewi Sri's right eye and red rice from her left.