Lembuswana

Ringkasan
Lembuswana adalah satwa mitologi rakyat Kutai yang berwujud lembu keemasan bermahkota, berbelalai gajah, bersayap garuda, bertaji ayam, dan bersisik naga, lambang Kerajaan Kutai hingga Kesultanan Kutai Kartanegara.
The lembuswana is a mythical beast of the Kutai people, a golden crowned bull with an elephant's trunk, garuda wings, rooster spurs and dragon scales, emblem of the Kutai kingdom through the Sultanate of Kutai Kartanegara.
Kisah dan tradisi
Lembuswana adalah satwa dalam mitologi kuno rakyat Kutai yang kemudian menjadi lambang sejak masa Kerajaan Kutai, kerajaan Hindu tertua, hingga Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Ia dianggap suci karena dipercaya sebagai tunggangan Dewa Wishnu, dan menurut artikel jurnal, ia merupakan simbol keperkasaan dan kekuasaan Raja Kutai. Namanya disebut berasal dari bahasa Sansekerta: lembu, yang berarti sapi, dan svarna, yang berarti emas; arsip keluarga yang dikutip sebuah jurnal menafsirkan "lembu" dan "suwana" dengan makna lain. Lembuswana berwarna keemasan dan berwujud lembu yang bermahkota, berbelalai dan bergading seperti gajah, bersayap seperti garuda, berkuku dan bertaji seperti ayam jantan, serta bersisik seperti naga. Penggambaran lain menyebutnya bertaring seperti harimau dan bertubuh seperti kuda. Hewan ini diyakini memiliki kekuatan luar biasa dan dapat hidup di darat, air, maupun udara; dalam riwayat yang dikutip jurnal, ia dapat terbang secepat kilat di angkasa. Menurut kepercayaan masyarakat, ia adalah kendaraan Batara Guru sekaligus kendaraan spiritual Raja Mulawarman. Seorang penulis karya tugas akhir menyimpulkan bahwa ia adalah tunggangan sakral para dewa yang patuh, abdi yang setia, serta kuat dan perkasa. Lembuswana dipercaya menjaga Sungai Mahakam dari bahaya, memastikan airnya tetap bersih, dan membantu nelayan menemukan tempat menangkap ikan. Legenda kemunculannya dari dasar sungai dihubungkan dengan kelahiran Putri Karang Melenuyang. Dalam De Kroniek van Koetai, seorang anak berbaring di atas gong yang dijunjung seekor naga, dan naga itu dijunjung Lembusuana yang berdiri di atas batu. Dalam cerita rakyat Kutai, naga itu disebut Ular Lembu, dan peristiwa itu digelar kembali setiap tahun pada upacara Erau. Lembuswana memiliki falsafah Paksi Liman Jonggo Yokso, yaitu bahwa seseorang seharusnya bersifat mulia sebagai pengayom rakyat; mahkotanya dapat diartikan sebagai kekuasaan dan belalainya menggambarkan Dewa Ganesha. Menurut Dr. W. Kern, Lembusuana diukir berwarna di atas kulit kerbau yang disimpan di keraton Kutai sebagai pusaka. Patung lembuswana berdiri di halaman depan Museum Mulawarman di Tenggarong, tempat sepasang arca Lembusuana dari gangsa keemasan juga dapat dilihat. Menurut sebuah artikel jurnal, patung-patung lembuswana dibuat di Birma pada 1850, lalu sampai di istana Kutai Kartanegara pada 1900. Patung lembuswana raksasa karya I Nyoman Nuarta juga berdiri di Pulau Kumala; konon patung duduk di sana dianggap merusak filosofi Lembusuana yang berdiri gagah berani.
The lembuswana is a creature of the ancient mythology of the Kutai people that became an emblem from the time of the Kutai kingdom, the oldest Hindu kingdom, to the Sultanate of Kutai Kartanegara Ing Martadipura. It is considered sacred because it is believed to be the mount of the god Vishnu, and according to a journal article it is a symbol of the might and power of the King of Kutai. Its name is said to come from Sanskrit: lembu, meaning cow, and svarna, meaning gold; a family archive cited in a journal reads "lembu" and "suwana" differently. The lembuswana is golden and bull-shaped, wearing a crown, with an elephant's trunk and tusks, wings like a garuda, a rooster's claws and spurs and scales like a dragon. Other descriptions give it fangs like a tiger and a body like a horse. The animal is believed to have extraordinary power and to be able to live on land, in water and in the air; in the account cited in a journal it can fly as fast as lightning through the sky. By popular belief it is the vehicle of Batara Guru and the spiritual vehicle of King Mulawarman. The author of a final-project paper concludes that it is a sacred steed of the gods, docile, a faithful servant, strong and mighty. The lembuswana is believed to guard the Mahakam River from danger, keep its water clean and help fishermen find fishing spots. The legend of its emergence from the river bed is tied to the birth of Princess Karang Melenuyang. In De Kroniek van Koetai, a child lies on a gong carried by a dragon, and the dragon is carried by Lembusuana standing on a rock. In Kutai folk tales the dragon is called Ular Lembu, and the event is re-enacted every year at the Erau ceremony. The lembuswana carries the philosophy Paksi Liman Jonggo Yokso: one should be noble as protector of the people; its crown can be read as power and its trunk represents the god Ganesha. According to Dr. W. Kern, Lembusuana was carved in colour on buffalo hide kept in the Kutai palace as a heirloom. A lembuswana statue stands in front of the Mulawarman Museum in Tenggarong, where a pair of golden-bronze Lembusuana statues can also be seen. A journal article says the statues were made in Burma in 1850 and reached the Kutai Kartanegara palace in 1900. A giant lembuswana statue by I Nyoman Nuarta also stands on Pulau Kumala; it is said that a seated statue there was seen as damaging the philosophy of Lembusuana, who stands bravely.
Konteks budaya
Lembuswana dipandang sebagai simbol keperkasaan dan kekuasaan Raja Kutai; menurut arsip keluarga yang dikutip jurnal, belalai dan gading gajahnya bermakna bahwa raja harus berwibawa dan disegani rakyat. Ia memiliki falsafah Paksi Liman Jonggo Yokso, yaitu bahwa seseorang seharusnya bersifat mulia sebagai pengayom rakyat; mahkotanya dapat diartikan sebagai kekuasaan dan belalainya menggambarkan Dewa Ganesha, dewa kecerdasan.
The lembuswana is seen as a symbol of the might and power of the King of Kutai; according to a family archive cited in a journal, its elephant trunk and tusks mean that a king must have authority and be respected by his people. It carries the philosophy Paksi Liman Jonggo Yokso: one should be noble as protector of the people; its crown can be read as power and its trunk represents the god Ganesha, god of intelligence.
Fakta utama
- Budaya / Culture
- Folklor Indonesia
- Kawasan / Region
- Asia Tenggara
- Negara / Country
- Indonesia
- Era
- Associated with the Kutai kingdom; King Mulawarman, said to ride the lembuswana spiritually, ruled about 1,500 years ago.
- Klasifikasi / Classification
- Hybrid
- Habitat
- Water
- Kemampuan / Abilities
- Terbang
Nama lain / Alternate names
Lembusuana
Tahukah kamu? / Did you know?
Menurut sebuah artikel jurnal, patung Lembusuana yang asli terbuat dari emas dan tingginya tidak lebih dari 30 cm.
According to a journal article, the original Lembusuana statue was made of gold and was no more than 30 cm tall.