Semar

Semar
Wayang kulit Semar.

Ringkasan

Semar adalah tokoh mitologi Jawa yang tampil sebagai punakawan dalam wayang: abdi jenaka yang ilahi dan sangat bijaksana, roh penjaga tanah Jawa, dan penjelmaan Dewa Sang Hyang Ismaya.

Semar is a figure of Javanese mythology who appears as a punokawan in wayang: a comic servant who is divine and very wise, guardian spirit of Java and the god Sang Hyang Ismaya in human form.

Kisah dan tradisi

Semar adalah tokoh mitologi Jawa yang sering tampil dalam wayang. Ia salah satu punakawan, para abdi jenaka, tetapi bersifat ilahi dan sangat bijaksana; ia disebut dhanyang atau roh penjaga tanah Jawa dan penjelmaan Dewa Sang Hyang Ismaya. Namanya konon berasal dari kata Jawa samar, yang berarti redup atau misterius. Ia digambarkan berhidung pesek, berahang bawah menonjol, bermata lelah, dan bertubuh menggembung, dengan kain kotak-kotak yang melambangkan kesakralan. Tubuh bulatnya ditafsirkan sebagai lambang bumi, dan sosoknya memadukan lawan: laki-laki tetapi berpayudara, dewa tetapi hidup sebagai rakyat jelata. Putra-putranya, Gareng, Petruk, dan Bagong, juga punakawan, dan dalam sebagian wayang ia bersaudara dengan Togog. Asal-usulnya dikisahkan berbeda-beda, tetapi semuanya terkait dewa. Menurut Serat Kanda, Sang Hyang Tunggal sendiri menjadi pengasuh para kesatria dengan nama Semar; menurut Paramayoga, Ismaya lahir dari telur mustika bersama Manikmaya dan dapat merasuki Semar sehingga ia ditakuti bahkan oleh para dewa. Dalam kosmogoni Jawa yang dicatat Raffles, putra dewa yang jatuh di Jawa diberi nama Náyan-taka, sama dengan Sémar, dan diubah menjadi sosok lucu yang mengiringi para kesatria. Dalam lakon wayang, Semar adalah pengasuh dan penasihat para kesatria Mahabharata dan Ramayana, tetapi namanya tidak ada dalam naskah Sanskerta karena ia ciptaan pujangga Jawa. Ia tidak pernah keliru, jauh lebih sakti daripada kelihatannya, dan satu-satunya tokoh yang berani memprotes bahkan memaksa para dewa seperti Batara Guru dan Batari Durga. Dalam satu versi Babad Tanah Jawi, ia menggarap sawah dekat Gunung Merbabu selama sepuluh ribu tahun sebelum ada manusia, lalu menjadi penasihat spiritual para raja. Semar pertama kali dikenal pada masa Majapahit, dalam kisah Sudamala yang dipahat sebagai relief, antara lain di Candi Sukuh. Satu hipotesis menyebut Semar dan putra-putranya dewa-dewa pribumi lama yang diturunkan menjadi abdi ketika kisah para kesatria India masuk. Pengaruhnya sampai ke Kelantan, tempat para dalang Wayang Siam dahulu memanggilnya sebagai Pak Dogol bersama Siwa dan Wisnu.

Semar is a figure of Javanese mythology who often appears in wayang. He is one of the punokawan, the comic servants, yet he is divine and very wise; he is called the dhanyang, the guardian spirit of Java, and the god Sang Hyang Ismaya in human form. His name is said to come from the Javanese word samar, meaning dim or mysterious. He is shown with a flat nose, protruding lower jaw, tired eye and bulging body, wearing a checkered cloth that signals sacredness. His round body is read as a symbol of the earth, and his figure joins opposites: male yet with breasts, a god living as a commoner. His sons Gareng, Petruk and Bagong are also punokawan, and in some wayang he is Togog's brother. His origin is told in different ways, all tied to the gods. In the Serat Kanda, Sang Hyang Tunggal himself becomes the knights' guardian under the name Semar; in the Paramayoga, Ismaya is born from a jewel-egg together with Manikmaya and can possess Semar, making him feared even by the gods. In the Javanese cosmogony recorded by Raffles, the divine son who fell on Java was named Náyan-taka, the same as Sémar, and turned into a comic figure who attends on warriors. In wayang plays Semar is guardian and adviser to the knights of the Mahabharata and Ramayana, yet his name is missing from the Sanskrit texts because he was created by Javanese poets. He is never mistaken, far more powerful than he looks, and the only character who dares protest and even compel the gods, such as Batara Guru and Batari Durga. In one version of the Babad Tanah Jawi he tilled a rice field near Mount Merbabu for ten thousand years before any humans, then became spiritual adviser to the kings. Semar is first known from the Majapahit era, in the Sudamala story carved as reliefs, among them at Candi Sukuh. One hypothesis holds that he and his sons were old indigenous deities demoted to servants when the Indian heroes' tales arrived. His reach extends to Kelantan, where Wayang Siam performers once invoked him as Pak Dogol alongside Shiva and Vishnu.

Konteks budaya

Sosok Semar ditafsirkan memadukan lawan: tubuh bulatnya lambang bumi, dan ia dewa yang hidup sebagai rakyat jelata, simbol atasan dan bawahan.

Semar's figure is read as uniting opposites: his round body symbolises the earth, and he is a god living as a commoner, a symbol of master and servant.

Fakta utama

Budaya / Culture
Folklor Indonesia
Kawasan / Region
Asia Tenggara
Era
First known in the Majapahit era, in reliefs dated 1358 and 1439.
Klasifikasi / Classification
Deity

Nama lain / Alternate names

Kyai Lurah Semar, Pak Dogol, Náyan-taka

Tahukah kamu? / Did you know?

Menurut satu versi Babad Tanah Jawi, Semar menggarap sepetak sawah dekat Gunung Merbabu selama sepuluh ribu tahun sebelum ada manusia.

In one Babad Tanah Jawi version, Semar spent ten thousand years tending a little paddy beside Mount Merbabu, long before people existed.

Makhluk terkait / Related beings

Lanjutkan