Seri Pahang
سري ڤهڠ

Ringkasan
Seri Pahang adalah buaya muara putih raksasa dalam cerita rakyat Melayu Pahang yang konon tinggal di Tasik Chini dan terkenal karena bertarung melawan iblis laut hitam Seri Kemboja.
Seri Pahang is a legendary giant white saltwater crocodile of Pahang Malay folklore said to live in Chini Lake, famous for its duel with the black sea demon Seri Kemboja.
Kisah dan tradisi
Dalam cerita rakyat Melayu Pahang, Seri Pahang adalah buaya muara putih raksasa yang konon hidup di Tasik Chini, Distrik Pekan, Pahang. Ia terkenal karena duelnya dengan iblis laut hitam bernama Seri Kemboja di lepas pantai Pahang. Dalam versi lain keduanya digambarkan sebagai ular raksasa yang disebut naga. Menurut kisah setempat, danau dan gunung di sampingnya keramat, dan penduduk menganggap tempat itu memiliki buaya putih yang dijuluki 'Seri Pahang', 'kemuliaan Pahang'. Menurut legenda, kabar tentang iblis laut Seri Kemboja sampai kepada Seri Pahang dan ia bersumpah menyingkirkannya. Ia berenang ke Kuala Pahang, menjelma lelaki tua membawa timba dari palem, dan membujuk para pelaut membawanya serta. Di titik tenggara Sedili Kechil ia menyerahkan timba kepada nakhoda dan melompat ke laut; ia segera menjadi buaya putih raksasa, dan kunyit di timba itu menjadi emas, upah para pelaut. Pertarungan berlangsung lama; laut menjadi gelap, guruh bergemuruh, dan kilat menyambar. Seri Pahang berhasil membunuh Seri Kemboja tetapi terluka parah. Ia berenang ke Pulau Aur, kembali menjadi lelaki tua, dan menumpang perahu ke Kuala Pahang. Di Sekukoh ia makin lemah, meminta pelaut berhenti di muara Sungai Chini, dan mengumumkan bahwa ia sekarat; perahu baru dapat bergerak setelah kabar itu disampaikan, dan ratusan buaya terlihat berenang ke hilir menuju Sekukoh. Sebelum mati, buaya putih itu meminta penguasa Pahang memberinya pemakaman keagamaan yang layak, dan setelah mengetahui bagaimana ia membunuh iblis laut, sang penguasa setuju. Seri Pahang dimakamkan di lubang berpasir dekat Sekukoh, tempat yang hingga kini dikenal sebagai Makam Tok Pahang. Pada 1914, ketika Sultan Ahmad wafat, orang melihat dua puluh enam buaya berenang ke hulu di Sungai Pahang dalam formasi "V", diikuti kawanan ikan; orang percaya mereka pulang dari pemakaman sultan sebagai tanda terima kasih. Sumber lain menggambarkan Seri Pahang secara berbeda. Mythlok menyebutnya naga bersisik perak, satu dari lima naga bersaudara bersama Seri Daik, Seri Kemboja, Seri Siam, dan Seri Gumum. Sinar Harian (2021) mencatat bahwa Tasik Chini dikenal lewat legenda tiga naga yang dikatakan pernah menghuninya, yakni Seri Gumum, Seri Pahang, dan Seri Daik. TheSmartLocal menyebut "Nessie" Malaysia bernama Naga Seri Gumum, atau Seri Pahang, sedangkan Seri Kemboja disebut pasangan Seri Gumum dalam kisah lain.
In Pahang Malay folklore Seri Pahang is a giant white saltwater crocodile said to have lived in Chini Lake, Pekan District, Pahang. He is known for his duel with a black sea demon named Seri Kemboja off the coast of Pahang. In another version both are described as giant serpents called naga. In local accounts the lake and the mountain beside it are sacred, and the place is credited with a white crocodile styled 'Seri Pahang', 'glory of Pahang'. According to the legend, word of the sea demon Seri Kemboja reached Seri Pahang and he vowed to remove him. He swam to Kuala Pahang, took the form of an old man carrying a bailing pail made of palm, and persuaded sailors to take him aboard. At a spot southeast of Sedili Kechil he gave the pail to the nakhoda and leapt into the sea; he at once became a giant white crocodile, and the turmeric in the pail turned to gold, the sailors' payment. The fight lasted long; the sea turned dark, thunder rolled and lightning flashed. Seri Pahang killed Seri Kemboja but was badly wounded. He swam to Aur Island, became an old man again and got a boat ride to Kuala Pahang. At Sekukoh he grew weaker and had the sailors halt where the Chini River meets the Pahang, declaring that he was dying; hundreds of crocodiles were then seen swimming downriver to Sekukoh. Before dying, the white crocodile asked the ruler of Pahang for a proper religious burial, and after learning how he had killed the sea demon the ruler agreed. Seri Pahang was buried in a sandy pit near Sekukoh, a place known to this day as Makam Tok Pahang. In 1914, when Sultan Ahmad died, people saw twenty-six crocodiles heading upriver on the Pahang River in a "V" formation, followed by a shoal of fish; people believed they were returning from the sultan's funeral in gratitude. Other sources picture Seri Pahang differently. Mythlok calls him a silver-scaled naga, one of five dragon siblings with Seri Daik, Seri Kemboja, Seri Siam and Seri Gumum. Sinar Harian (2021) notes that Chini Lake is famous for the legend of the nagas Seri Gumum, Seri Pahang and Seri Daik. TheSmartLocal says Malaysia's own Nessie is the Seri Gumum Dragon, or Seri Pahang, while Seri Kemboja is called Seri Gumum's consort in another tale.
Konteks budaya
Legenda Seri Pahang menghubungkan buaya keramat Tasik Chini dengan penguasa Pahang, yang leluhurnya memakamkan Seri Pahang dengan layak; menurut kisah tahun 1914, buaya dan ikan memberi hormat pada pemakaman Sultan Ahmad sebagai tanda terima kasih.
The Seri Pahang legend links the sacred crocodile of Chini Lake with the rulers of Pahang, whose ancestor buried Seri Pahang properly; in the 1914 account the crocodiles and fish paid respects at Sultan Ahmad's funeral in gratitude.
Fakta utama
- Budaya / Culture
- Tradisi Malaysia
- Kawasan / Region
- Asia Tenggara
- Negara / Country
- Malaysia
- Klasifikasi / Classification
- Aquatic
- Habitat
- Water
- Kemampuan / Abilities
- Berubah wujud
Nama lain / Alternate names
Tok Pahang, Naga Seri Pahang
Tahukah kamu? / Did you know?
Ketika Seri Pahang sekarat di Sekukoh, perahu para pelaut tidak bisa bergerak sebelum kabarnya disampaikan di muara Sungai Chini.
When Seri Pahang lay dying at Sekukoh, the sailors' boat could not move until the news was delivered at the mouth of the Chini River.
Makhluk terkait / Related beings
- Bajang
- Naga Seri Gumum
- Orang Minyak (Orang Minyak (Oily Man))
- Penanggalan
- Toyol (Toyol (Tuyul))